Kolaka Utara – Serapan pupuk subsidi di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) tercatat masih rendah. Hingga Agustus 2025, pupuk subsidi jenis NPK Pelangi khusus kakao baru terserap sekitar 13 persen dari total kuota 8.752 ton yang disiapkan pemerintah.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhorti) Kolut, Nusbah Nuhung, menyebut salah satu penyebab utamanya adalah minimnya minat petani menebus pupuk subsidi yang tersedia di kios resmi. “Pupuk sudah tersedia, tapi petani tidak mau menebus. Padahal pupuk ini bukan gratis, distributor dan kios tetap beroperasi secara bisnis,” jelas Nusbah. Saat RDP bersama Komisi II DPRD Kolaka Utara. Rabu (1/10/2025)
Hal senada disampaikan Pengawas Alsintan Distanhorti, Hasriani. Ia menuturkan, rendahnya serapan pupuk NPK kakao lebih banyak dipicu faktor ekonomi. “Banyak petani tidak mampu membeli sesuai jatah. Misalnya dapat 10 sak, tapi hanya mampu beli 3 sak. Sisanya tidak terbeli,” ungkapnya.
Meski demikian, Hasriani menegaskan serapan pupuk subsidi jenis urea dan NPK untuk tanaman pangan relatif aman, bahkan sudah di atas 50 persen.
Untuk mengatasi persoalan ini, Distanhorti menginstruksikan penyuluh pertanian di 15 kecamatan agar berkoordinasi dengan pemerintah desa guna melakukan pendekatan langsung kepada petani.
Ketua DPC Abdesi Kolut, Maskuri, menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai pelibatan pemerintah desa akan lebih efektif agar pupuk subsidi benar-benar dimanfaatkan oleh yang membutuhkan. “Kalau ada petani tidak ingin menebus pupuknya, bisa dialihkan ke keluarga atau petani lain,” ujarnya. (IS)





