Lomba Konten Literasi Kolaka Utara Tuai Polemik, Panitia Minta Maaf

Kolaka Utara – Panitia Lomba Konten Literasi yang diselenggarakan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) menyampaikan permohonan maaf atas polemik pengumuman pemenang lomba yang sempat menuai protes dari peserta. Kesalahan dalam penginputan nilai disebut menjadi pemicu utama insiden tersebut.

Salah satu peserta, tim Mi Familia, menyampaikan keberatan setelah nama mereka yang sebelumnya diumumkan sebagai juara III pada 24 Mei 2025, tiba-tiba dibatalkan empat hari kemudian. Ketua tim, Nurul Hikmah, mengaku kecewa dan menilai panitia tidak transparan serta tidak profesional dalam menangani lomba.

“Publikasi resmi adalah titik akhir. Tindakan panitia jelas melanggar etika kompetisi dan administrasi,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa keputusan pembatalan dilakukan tanpa komunikasi yang layak dan terkesan mengabaikan jerih payah peserta.

Nurul menyatakan bahwa ini bukan sekadar soal gelar atau piala, namun menyangkut penghargaan atas karya dan integritas pelaksanaan lomba. “Ketika lembaga literasi abai terhadap prinsip keadilan, maka yang dirugikan bukan hanya peserta, tetapi juga semangat literasi itu sendiri,” ujarnya.

Ketua Panitia Lomba, A. Ida, tak menampik adanya kekeliruan dalam penginputan nilai. Ia menjelaskan bahwa setelah dilakukan pengecekan ulang, ditemukan nilai yang seharusnya 74, namun tertulis 34 di lembar Excel.

“Ini murni kekeliruan teknis, tidak ada unsur kesengajaan ataupun intervensi,” jelasnya. Ia mengaku dilematis saat mengetahui kesalahan tersebut, namun demi keadilan, panitia akhirnya memutuskan memperbaiki hasil meskipun berisiko menimbulkan kekecewaan.

Kesalahan itu baru diketahui saat dokumen nilai hendak ditandatangani dewan juri, namun tertunda karena bertepatan dengan hari libur. Setelah itu, panitia langsung melakukan pembetulan dan klarifikasi hasil lomba.

Selain protes dari Mi Familia, panitia juga menerima keberatan dari peserta lain terkait durasi video yang dianggap melanggar ketentuan. Namun, menurut panitia, hal tersebut telah dibahas bersama dewan juri sebelum penilaian, dan ada pertimbangan khusus bagi peserta yang aktif dalam sesi pembekalan.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, panitia menggelar sesi klarifikasi melalui Zoom dan grup WhatsApp peserta. Meski sempat terkendala teknis, panitia menyatakan tetap berkomitmen menjalankan prinsip keadilan dan keterbukaan.

“Kami menjadikan ini sebagai pelajaran berharga untuk pelaksanaan lomba ke depan. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” tutup A. Ida. (Israil Yanas)

Pos terkait