Usaha Tahu Tempe di Kolut Diduga Diteror dan Diperas Oknum LSM dan Oknum Wartawan, Pemilik Terpaksa Pindah

Kolaka Utara — Usaha rumahan tahu dan tempe “Tiga Putra” yang berlokasi di Desa Watuliwu, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, terpaksa membongkar dan pindahkan ke lokasi baru setelah pemiliknya, Erwin Fitrianto, mengaku mendapat teror dan pemerasan dari oknum yang mengaku sebagai wartawan TV lokal dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Senin (10/03/2025).)

Erwin mengungkapkan bahwa intimidasi tersebut bermula dari dugaan pencemaran lingkungan akibat limbah cair hasil produksi tahu yang sementara dialirkan ke Sungai Watuliwu. Oknum-oknum tersebut menuntut sejumlah uang sebagai syarat agar usaha miliknya tidak diprotes atau ditutup melalui aksi unjuk rasa.

“Untuk sementara kami memang alirkan limbah ke sungai karena bak kontrolnya masih dalam proses pembangunan. Tapi karena tekanan dan keluarga juga sudah mendesak, saya terpaksa pindahkan usaha ini,” ujar Erwin saat ditemui di kediamannya,

Erwin mengaku dua kali didatangi oleh para oknum tersebut yang bergantian menemuinya dan menginterogasi soal limbah usaha. Bahkan, mereka mengaku telah melaporkan kasus tersebut ke Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup.

“Mereka sempat ajak saya ketemu di salah satu kafe, tapi karena saya lagi kurang sehat, saya minta mereka datang ke rumah. Mereka datang dengan alasan bantu urus legalitas usaha, tapi ujung-ujungnya minta uang,” jelasnya.

Erwin menyebut dirinya akhirnya menyerahkan uang tunai sebesar Rp3 juta yang diberikan melalui seorang perantara berinisial T, untuk diserahkan kepada beberapa orang berinisial A, H, dan A. Uang tersebut diminta secara bertahap dengan alasan “uang rokok” karena mereka membawa banyak anggota.

“Pertama minta Rp1 juta, lalu tambah Rp1,5 juta, dan terakhir diminta lagi Rp500 ribu. Totalnya Rp3 juta,” ungkapnya.

Padahal, menurut Erwin, usaha tahu tempe miliknya telah memiliki izin resmi dari Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara tahun 2018 lalu dan mempekerjakan sekitar 10 orang karyawan. Namun, demi kenyamanan dan menghindari konflik, ia memutuskan untuk pindah ke tempat sewa yang lebih aman.

Menariknya, meskipun mengalami tekanan dan kerugian, Erwin memilih untuk tidak melaporkan kasus ini ke penegak hukum.

“Kami tidak mau memperpanjang masalah, karena saya pikir kita sama-sama cari nafkah,” katanya dengan nada datar.

IS

Pos terkait