Kolaka Utara – Pikiranpembaharuan.com — Transformasi layanan pariwisata mulai diterapkan Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka Utara dengan menghadirkan sistem pembayaran digital QRIS di objek wisata Pantai Berova, Desa Pitulua, Kecamatan Lasusua. Kebijakan ini menjadi langkah awal digitalisasi pengelolaan destinasi wisata daerah, Selasa (4/2/2026).
Penerapan QRIS memungkinkan pengunjung membayar retribusi masuk tanpa uang tunai, cukup melalui pemindaian kode menggunakan ponsel pintar. Skema ini dinilai lebih praktis, aman, serta sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transaksi non-tunai di ruang publik.
Kepala Dinas Pariwisata Kolaka Utara, Mustabesirah, S.E., menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian dari pembenahan tata kelola destinasi wisata agar lebih modern dan transparan.
“Kami ingin pelayanan di lokasi wisata semakin mudah dan efisien. QRIS memberi kemudahan bagi pengunjung sekaligus membantu pengelolaan retribusi yang lebih tertib,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, sistem pembayaran digital ini telah melalui tahap uji coba sejak akhir 2025. Setelah dinilai berjalan lancar, QRIS mulai diberlakukan penuh pada awal tahun 2026 tanpa adanya perubahan tarif masuk bagi pengunjung.
“Tarif retribusi tetap sama. Perbedaannya hanya pada metode pembayaran, sekarang pengunjung punya pilihan yang lebih praktis,” jelasnya.
Menjawab keraguan masyarakat terkait jaringan internet, Dispar Kolaka Utara memastikan akses jaringan di area pintu masuk Pantai Berova cukup stabil untuk mendukung transaksi digital.
“Di titik pembayaran jaringan relatif aman, sehingga proses pemindaian QRIS tidak menjadi kendala,” katanya.
Di sisi lain, Dispar Kolaka Utara juga melakukan pembenahan kawasan Pantai Berova menjelang meningkatnya kunjungan wisatawan pada musim libur Idulfitri. Peningkatan kebersihan, penataan lingkungan, serta pengamanan kawasan menjadi fokus utama, termasuk perawatan fasilitas umum dan kolam renang.
“Kami rutin melakukan pembersihan setiap pekan agar kawasan wisata tetap nyaman dan layak dikunjungi,” tambah Mustabesirah.
Selain Pantai Berova, destinasi Danau Biru di Desa Walasiho juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Namun berbeda dengan Pantai Berova, pengelolaan Danau Biru dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melalui kerja sama resmi dengan Dispar Kolaka Utara.
Mustabesirah mengakui masih banyak potensi wisata lain di Kolaka Utara yang belum tergarap maksimal. Sejumlah objek wisata alam seperti gua dan lokasi eksotis lainnya masih menunggu sentuhan pengelolaan agar dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Potensi kita sangat besar, tapi saat ini baru dua destinasi yang dikelola dan dikomersilkan secara resmi. Ke depan, tentu akan kita dorong pengembangannya secara bertahap,” pungkasnya. (IS)





