Kolaka Utara – Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 3 Pakue Tengah, Kecamatan Pakue Tengah, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, lumpuh total setelah sekolah tersebut terendam banjir lumpur. Genangan ini merupakan dampak dari banjir bandang yang melanda Desa Pasampang pada Selasa malam, 1 April 2025.
Lumpur kiriman tersebut menggenangi hampir seluruh area sekolah, mulai dari halaman, empat ruang kelas, satu kantor guru, hingga perpustakaan. Tinggi lumpur bahkan mencapai mata kaki hingga betis orang dewasa. Hingga Rabu (9/4/2025), genangan tersebut belum juga dibersihkan secara maksimal karena keterbatasan bantuan alat dan tenaga.
Kepala SDN 3 Pakue Tengah, Fitriyani, S.Pd., mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah melaporkan kondisi ini kepada Dinas Pendidikan dan BPBD Kolaka Utara sejak hari Rabu (2/4/2025), tepat setelah kejadian. Namun, bantuan yang datang hanya berupa satu unit mobil pemadam kebakaran yang menyemprot bagian drainase di sekitar teras kantor sekolah.
“Kami sudah laporkan, tapi sampai sekarang belum ada bantuan alat berat. Kami hanya dibantu mobil Damkar yang sempat menyemprot drainase. Selebihnya, kami bersihkan sendiri bersama guru dan siswa,” ujarnya saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (9/4/2025).
Akibat genangan tersebut, proses belajar mengajar terpaksa dihentikan sementara. Para siswa dan guru terpaksa membuka sepatu untuk melewati jalan setapak yang masih bisa dilalui. Banyak buku pelajaran dan dokumen penting sekolah yang ikut terendam lumpur.
“Kami prioritaskan pembersihan dulu. Fokus kami membersihkan ruang kelas, kantor, dan perpustakaan. Banyak buku dan dokumen kantor yang rusak,” tutur Fitriyani.
Menanggapi kejadian ini, Ketua Komisi III DPRD Kolaka Utara telah menerima laporan resmi dari pihak sekolah dan berjanji akan segera menyampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara untuk mendapatkan penanganan cepat.
Fitriyani berharap pemerintah segera mengirim alat berat dan mobil Damkar tambahan untuk membantu mengeruk dan menyemprot lumpur yang menebal di lingkungan sekolah. Ia juga menyampaikan bahwa lokasi sekolah berada di dataran rendah sehingga rentan terdampak banjir, terutama saat hujan deras atau pasang air laut.
“Kalau lumpur sudah dibersihkan, kami berencana melakukan penimbunan dengan pasir agar tidak terulang lagi ke depannya,” pungkasnya.
IS





